Donggala, Film, dan Bioskop.

0
94

DONGGALA,MEDIASULTENG.COM – Lebih dari enam abad lampau, kota Donggala telah ditemukan dan tertulis dalam catatan-catatan navigasi kapal dagang bangsa China yang melabuhkan sauhnya di kota Donggala.

Pemerhati sejarah kota Donggala, Zulkiffly Pagessa mengatakan, berawal dari tambatan perahu nelayan, kota Donggala kemudia berkembang menjadi persinggahan kapal-kapal tradisional yang mengisi perbekalan air tawar.

“Setelah itu kota pelabuhan ini tumbuh menjadi salah satu pelabuhan penting di bagian timur Nusantara,” katanya belum lama ini di Donggala.

Zulkiffly yang juga sekretaris Dewan Kesenian Donggala ini mengatakan, aktifitas perdagangan dan interaksi sosial di Donggala membentuk kultur kota urban. Kota-kota lain di Nusantara yang menjalin kerja sama dengan kota Donggala memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan sosial-kultural di kota tersebut terutama pada Film dan Bioskop.

“Bagi sebagian besar warga kota Donggala, pelabuhan kota Donggala tidak hanya sekedar tumpuan ekonomi, namun menjadi bagian jati diri dan kebanggan kolektif,” ujar dia.

Film dan Bioskop

Zulkiffly mengatakan, tidak hanya pelabuhan, kota Donggala juga dikenal dengan film dan bioskop. Sejak Lumiere bersaudara mempublikasikan film untuk pertama kalinya di hadapan publik Perancis tahun 1895, film telah menjadi bagian penting dari peradaban modern.

Pria berjenggot panjang ini mengungkapkan, tahun 1936, ratusan Bioskop berdiri di Indonesia, salah satunya Bioskop Apollo Theater di kota Donggala. Hal ini membuktikan bahwa kota Donggala menjadi bagian penting dari sejarah perfilman di Nusantara.

“Film dan Bioskop telah menjadi salah satu penanda kultural bagi kemajuan kota Donggala,” tutur pria yang akrab disapa Uun ini.

Ungkap Uun, awal abad 20-an film dan  bioskop menjadi bagian dari kehidupan publik di kota pelabuhan ini. Film-film dari berbagai belahan dunia di putar di bioskop di kota Donggala. Salah satu film yang menjadi favorit warga kota Donggala kala itu film Juwita yang di bintangi oleh aktor Malaysa kelahiran Sumatera.

Bioskop menjadi jendela setelah pelabuhan terlebih dahulu menjadi pintu  bagi pergaulan dan interaksi internasional di kota Donggala.

Lebih jauh dia mengatakan, hingga dekade 1990-an, di kota Donggala masih beroperasi tiga gedung Bioskop. Megaria, Muara, dan Bioskop Gelora.

“Namun tiga bioskop legendaris itu kini tinggal puing dan reruntuhanya karena lapuk dimakan usia. Tak ada lagi perbincangan tentang nasib dan harapan bagi kota Donggala di masa depan. Demikian pula halnya dengan film dan bioskop yang telah menjadi warisan kultural masyarakat urban kota Donggala,” tutup Zulkiffly.**

Reporter : JOSE RIZAL

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here